Lewati ke konten utama
Pendidikan

Anak Dirundung di Sekolah: Langkah Konkret yang Bisa Ditempuh Orang Tua

Perundungan pada anak disabilitas sering dianggap 'anak-anak biasa saja'. Ini cara mendokumentasikan, menuntut tindakan sekolah, dan menguatkan anak.

Tim DisabilitasKu24 Agustus 20262 menit baca120 kali dibaca
Anak Dirundung di Sekolah: Langkah Konkret yang Bisa Ditempuh Orang Tua

Bentuknya Tidak Selalu Fisik

Perundungan pada anak disabilitas sering berupa hal yang mudah disangkal: ditinggal sendirian terus-menerus, ditiru cara bicara atau jalannya, barangnya disembunyikan, dijadikan bahan tawa, atau dimanfaatkan (disuruh melakukan sesuatu lalu ditertawakan). Karena tidak meninggalkan bekas, sering dianggap "bercanda".

Tanda pada Anak yang Sulit Bercerita

  • Menolak berangkat sekolah, atau mengeluh sakit perut/kepala tiap pagi sekolah.
  • Barang sering hilang atau rusak.
  • Perubahan tidur, nafsu makan, atau munculnya kembali perilaku lama.
  • Menjadi lebih agresif di rumah — kadang ini satu-satunya tempat ia merasa aman melepaskan.

Langkah yang Efektif

  1. Dokumentasikan. Buat catatan: tanggal, jam, tempat, siapa yang terlibat, apa yang terjadi, siapa yang melihat. Foto luka atau barang rusak. Simpan tangkapan layar bila terjadi daring. Catatan inilah yang mengubah percakapan dari "kesan orang tua" menjadi pola yang tidak bisa diabaikan.
  2. Mulai dari wali kelas, secara tertulis. Kirim pesan atau surat yang mencatat kejadian dan meminta tindakan. Percakapan lisan mudah dilupakan; tertulis meninggalkan jejak.
  3. Minta pertemuan dengan rencana, bukan keluhan. Datang dengan usulan konkret: pengawasan di jam istirahat, pengaturan tempat duduk, pendamping saat pergantian kelas, program kelas tentang perbedaan.
  4. Naik jenjang bila tidak ada perubahan. Kepala sekolah, lalu komite sekolah, lalu dinas pendidikan. Sertakan catatan Anda dan surat-surat sebelumnya.
  5. Tetapkan tenggat. "Kami ingin melihat perubahan dalam dua minggu, dan akan bertemu lagi untuk mengevaluasi." Tanpa tenggat, pembicaraan mudah berhenti tanpa hasil.

Yang Sebaiknya Dihindari

  • Menghubungi orang tua pelaku secara langsung tanpa sekolah — sering berujung saling menuduh dan memperburuk posisi anak.
  • Menyuruh anak melawan secara fisik. Berisiko, dan sering berbalik menjadikan anak Anda pihak yang disalahkan.
  • Menganggap ini akan hilang sendiri seiring waktu.

Menguatkan Anak

Yang membantu anak bertahan bukan nasihat "jangan dipikirkan", melainkan: satu orang dewasa di sekolah yang bisa ia datangi kapan saja, minimal satu teman, kegiatan di luar sekolah tempat ia merasa mampu, dan kalimat yang diulang di rumah — ini bukan salahmu, dan kami menangani ini bersamamu.

Penutup

Perundungan yang dibiarkan berdampak jauh melampaui masa sekolah. Menanganinya bukan bentuk memanjakan anak, melainkan menegakkan syarat paling dasar agar sekolah bisa menjalankan fungsinya.

perundungan
bullying
sekolah
inklusi
advokasi